Selasa, 10 Maret 2015
Biografi Tokoh Amoroso Katamsi
Amoroso Katamsi (lahir di Batavia, Hindia Belanda, 21 Oktober 1940;
umur 74 tahun) adalah seorang pemeran Indonesia. Ia dikenal lewat film Penumpasan
Pengkhianatan G 30 S PKI yang dibuat pada tahun 1982 dengan
sutradara, Arifin C. Noer dan
melalui film Djakarta 1966 didukung
oleh Umar Kayam dengan sutradara yang sama. Ia
juga pernah menjadi ketua PARFI.
§Filmografi
·
"Dibalik 98"(2015)
§Sinetron
Hyperlink Website Biografi
http://id.wikipedia.org/wiki/Bing_Slamet
http://id.wikipedia.org/wiki/Benyamin_Sueb
http://id.wikipedia.org/wiki/P._Ramlee
http://id.wikipedia.org/wiki/Amoroso_Katamsi
http://id.wikipedia.org/wiki/Benyamin_Sueb
http://id.wikipedia.org/wiki/P._Ramlee
http://id.wikipedia.org/wiki/Amoroso_Katamsi
Biografi Tokoh Bing Slamet
Bing
Slamet (lahir di Cilegon, Banten, 27 September 1927 – meninggal
di Jakarta, 17 September 1974 pada umur 46 tahun) yang dilahirkan
dengan nama Ahmad Syech Albar adalah salah satu maestro lawak Indonesia pada masanya bersama Kwartet Jaya,
grup yang terdiri dari Bing Slamet, Ateng, Iskak dan Eddy Sud.
Namanya sebenarnya pertama kali berkibar ketika bergabung dengan grup musik Eka Sapta yang dimulai pada tahun 1963, bersama beberapa
nama terkenal seperti Yamin Wijaya,Ireng Maulana, Itje Kumaunang, Benny Mustapha dan Idris Sardi.
Selain itu dia juga banyak bermain dalam film-film komedi pada era tahun
1960-an dan 1970-an.
Untuk mengenangnya Titiek Puspa menciptakan lagu yang berjudul Bing.
Awal Karier
Ayahnya seorang mantri pasar bernama
Rintrik Achmad. Bing Slamet seolah dilahirkan sebagai penghibur yang bertugas menghibur
siapa saja. Bahagia dan gelak tawa kelak merupakan jasa yang ditampilkan Bing
dalam kesempatan apa saja termasuk menghibur para pejuang dengan berkeliling
Indonesia antara kurun waktu 1942-1945. Di balik corong mikrophone radio, Bing
bahkan tampil sebagai agitator yang menyemangati pejuang menghalau kaum
penjajah.
Sejak tahun 1939 dalam
usia 12 tahun, Bing Slamet telah ikut mendukung Orkes Terang Bulan yang
dipimpin Husin Kasimun. Bakat seninya yang luarbiasa mulai terlihat di sini.
Setahun menjelang proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, Bing ikut
bergabung dengan kelompok teater Pantja Warna.
Tampaknya, seni merupakan dunia yang
dipeluk Bing Slamet. Ia bahkan menampik keinginan orang tuanya yang mendamba
sang putera tercinta untuk menjadi dokter maupun insinyur. Walau sempat
mengenyam bangku HIS Pasundan, HIS Tirtayasa, Sjugakko, dan STM Pertambangan.
Pilihan Bing bulat: mengabdi untuk seni.
Bing Slamet lalu bergabung pula pada
Divisi I Brawijaya sebagai Barisan Penghibur. Di sini, kemampuannya bermusik
dan melawak mulai terasah. Seolah tanpa pamrih, Bing lalu bersedia ditempatkan
di kota mana saja. Bing yang mulai masuk Radio Republik
Indonesia (RRI) kemudian ditempatkan di Yogyakarta dan Malang. Ia pun sempat bergabung di Radio Perjuangan Jawa Barat.
Pada tahun 1949, untuk pertama kali
suara baritone Bing Slamet menghiasi soundtrack film Menanti Kasih yang dibesutMohammad
Said dengan bintang A. Hamid Arief dan Nila Djuwita.
Kariernya di bidang tarik suara
sebetulnya terlecut ketika memasuki dunia radio. Di RRI, Bing Slamet banyak
menyerap ilmu dan pengalaman dari pemusik Iskandar dan pemusik keroncong tenar, M Sagi,
serta sahabat-sahabat musikal lainnya sepertiSjaifoel
Bachrie, Soetedjo, dan Ismail Marzuki. Dan, yang banyak
memengaruhinya adalah penyanyi Sam Saimun yang dikenalnya sejak bertugas di
Yogyakarta pada tahun 1944. Bagi Bing, Sam Saimun adalah tokoh penyanyi
panutannya. Tak sedikit yang menyebut timbre vokal Bing sangat mirip dengan Sam
Saimun.
Main film & Rekaman
Bing Slamet pada tahun
1970-an dalam salah satu film-nya
Pada tahun 1950, Bing mulai menjejakkan
kaki di dunia sinema sebagai aktor. Antara tahun 1950 sampai 1952, Bing Slamet
aktif pada Dinas Angkatan Laut Surabaya dan Jakarta. Pada tahun 1952 saat Bing
ditempatkan lagi di Jakarta, dia bergabung di RRI Jakarta dan mulai aktif
mengisi acara bersama Adi Karso. Bakat dan kemapuan musiknya mulai memuncak
saat bergabung di RRI hingga tahun 1962.
Pada tahun 1955, Bing Slamet mulai
menoreh prestasi dengan menjadi juara Bintang Radio untuk jenis Hiburan. Piringan
Hitam Bing pun mulai dirilis pada label Gembira Record dan
Irama Record. Ia terampil menyanyikan langgam keroncong hingga pop dan jazz.
Selain menyanyi, Bing pun memainkan gitar sekaligus
menulis lagu. Salah satu tembang pertama yang ditulisnya bersama gitaris jazz,
Dick Abell, adalah 'Cemas' .
Lalu, bermunculanlah lagu-lagu karya
Bing Slamet lainnya, semisal 'Hanya Semalam', 'Risau', 'Padamu', 'Murai Kasih',
hingga 'Belaian Sayang'. Lagu yang disebut terakhir dianggap sukses di mata
khalayak. Bing Slamet bisa menyanyikan dengan fasih lagu berbahasa Minang
'Sansaro',dengan luwes Bing menyanyikan lagu 'Selayang Pandang' dari ranah
Melayu. Bing adalah penyanyi serba bisa yang memiliki fleksibiltas tak
tertandingi.
Rekaman rekaman single Bing Slamet di
era 50-an diiringi oleh Orkes Keroncong M Sagi dan Irama Quartet yang didukung Nick Mamahit (piano), Dick Abell (gitar),
Max Van Dalm (drum), dan Van Der Capellen (bas). Bing Slamet pun membangun
sebuah kelompok musik yang diberi nama Mambetarumpajo,
merupakan akronim dari Mambo, Beguine, Tango, Rhumba, Passo Double, dan Joged,
yang saat itu adalah jenis musik untuk mengiringi dansa.
Pada tahun 1963, pria ini membentuk
sebuah grup musik yang diberi nama Eka Sapta dengan pendukungnya, antara
lain Bing Slamet (gitar, perkusi, vokal), Idris Sardi (bass,biola), Lodewijk Ireng Maulana (gitar, vokal), Benny
Mustapha van Diest (drum), Itje Kumaunang (gitar), Darmono (vibraphone), dan
Muljono (piano). Eka Sapta menjadi fokus perhatian, karena keterampilannya
memainkan musik yang tengah tren pada zamannya. Eka Sapta lalu merilis sejumlah
album pada label Bali Record, Canary Record, dan Metropolitan Records, yang
kelak berubah menjadi Musica Studio's. Eka Sapta adalah kelompok musik pop yang
terdepan di negeri ini pada era 60-an hingga awal 70-an.
Bing Slamet hebatnya mampu membagi
konsentrasi antara bermain musik, menyanyi, bikin lagu, melawak, dan main film
layar lebar. Setidaknya ada 20 film layar lebar yang dibintanginya, mulai dari
era film hitam putih hingga berwarna. Bing pun tercatat beberapa kali membentuk
grup lawak antara era 50-an hingga 70-an di antaranya Trio Los Gilos, Trio SAE,
EBI, dan yang paling lama bertahan adalah Kwartet Jaya bersama Ateng, Iskak,
dan Eddy Soed.[1]
Kehidupan Pribadi
Sampul muka majalah
Tempo pada akhir 1974 yang turut berduka atas meninggalnya Bing Slamet
Makam Bing Slamet di
TPUKaret Bivak, Jakarta
Bing menikah dengan Ratna Komala Furi
dan dikaruniai delapan anak yaitu :
·
Hilman
Syah, ayah dari Ayudhia Bing Slamet
·
Ratna Lusiana atau Uci Bing Slamet
·
Ferdinand Syah atau Adi Bing Slamet
·
Ratna Fairuz atau Iyut Bing Slamet
Diskografi
Cover Album Bing
Slamet dengan Eka Sapta Band
Album soloMenanti Kasih (Lokananta)
·
Nurlaila (Irama
Records)
·
Puspa Ragam Lagu Indonesia No 49 'Seruan Gembala' (Irama -IRA 65)
·
Puspa Ragam Lagu Indonesia No 50 'Aju Kesuma' (Irama -IRA 66)
·
Kr Moritsu - Bing Slamet dan Orkes Kerontjong M Sagi (Irama - IRK 125-1)
·
Es Lilin/Panon Hideung - Bing Slamet & Melodi Ria (Gembira Records RN
003)
·
Souvenir Pemilu 1971 Feat. Pohon Beringin
·
Kisah Pasar Baru Feat. Pajung Fantasi (Irama Records)
·
Bing Slamet Tersayang - MGM Records
·
Romi dan Juli - Titiek Puspa & Bing Slamet (Canary Record TCC 1032)
Bersama Eka Sapta
·
Burung Kutijija - Eka Sapta (Mutiara MEP 007)
·
Eka Sapta - Eka Sapta (Mutiara ML 1001)
·
Kasih Remadja - Eka Sapta (Bali Record BER 007)
·
Bing dan Giman Bernyanyi - Eka Sapta (Bali Record 008)
·
Varia Malam Eka Sapta Nonstop Revue (Bali Record BLM 7002)
·
Bing Slamet dan Eka Sapta - Eka Sapta (Bali Records BLM 7103)
·
Kerontjong – Eka Sapta (Canary 1970).
·
The Best Of Romantic Keronchong (Canary/Metropolitan 1972).
·
Album Kenang-kenangan Bing Slamet - Bali Record BCC01
Album bersama
·
Mari
Bersuka Ria dengan Irama Lenso (Irama LPI 17588) (1965)
·
GAJAH DUNGKUL - Titik Puspa, Bing Slamet dan Indonesia Tiga. (BALI record
BLP 7005)
·
Mak Tjomblang - Bing Slamet dan Maya Sopha (Bali Record/Remaco)
Album kumpulan
·
MERATAP SUNYI. (Ilhamku. -Irama. LPI. 17506)
·
ANEKA 12 Volume 5. (Feat. Nonton Bioskop; Sri Rahayu.-Remaco RLL-015)
Filmografi
Solo
di Waktu Malam (Borobudur Film,1952)
Lain Lain
·
Bing Slamet adalah pengagum Bing Crosby. Saking kagumnya pada entertainer
dunia itu, dia lalu menyusupkan nama Bing di depan namanya sendiri.
·
Untuk dedikasinya di bidang seni, Bing, pada 10 Juni 1972 menerima
Piagam Penghargaan dari Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin.
·
Pada saat pemerintahan Presiden Megawati Soekarno Puteri, Bing Slamet
memperoleh Anugerah Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma di Istana
Negara tanggal 7 November 2003.
·
Dalam film Gie (2005) besutan sutradara Riri Riza, lagu Bing Slamet berjudul 'Gendjer
Gendjer' yang terdapat pada album Mari
Bersuka Ria dengan Irama Lenso dan dilarang oleh pemerintah
dalam rezim Orde Baru, tampil nyaris utuh dalam adegan yang memperlihatkan
situasi politik di Jakarta pada era 60-an.
·
Iring-iringan mobil dan motor sepanjang 4 kilometer mengantarkan jenazahnya
ke pemakaman Karet siang 18 September 1974.
·
Beberapa penyanyi semisal Glenn Fredly, Dewi Sandra, Denny Wong Pitoe, Shelomita, dan Ruth Sahanaya, menafsir ulang lagu-lagu yang
pernah dipopulerkan Bing Slamet. Lagu bertajuk 'Belaian Sayang' dibawakan lagi
oleh duet Glen Fredly dan Dewi Sandra juga dilagukan Ruth Sahanaya. Shelomita bersama grup jazz Opustre
melantunkan 'Payung Fantasy' karya Ismail Marzuki yang lekat dengan citra
Bing Slamet di akhir era 50-an. Denny Wong Pitoe malah mencoba menjadi
impersonator Bing lewat 'Nurlaila', lagu yang pertamakali dinyanyikan Bing
Slamet dalam film Bing Slamet Tukang Betjak (1959).
Langganan:
Komentar (Atom)

